Test Footer

Selasa, 06 Agustus 2013

PERANG VIETNAM DAN TEORI DOMINO


PENDAHULUAN

Perang Vietnam merupakan perang yang terjadi antara Vietnam degan Amerika Serikat pada tahun 1957 sampai tahun 1975 di Vietnam. Perang ini juga disebut perang indocina kedua setelah sebelumnya Vietnam berperang dengan Perancis dalam perang kemerdekaan. Perang ini merupakan bagian dari perang dingin antara dua kubu ideologi besar yaitu Uni Soviet dengan ideologi Komunisnya dan Amerika Serikat dengan Ideologi Liberal Kapitalisnya. Hal inilah kemudian menyebabkan pecahnya perang terbuka antara Vietnam dengan Amerika Serikat.
Pokok permasalahan yang perlu dianalisis berkisar pada pengaruh perang dingin sebagai salah satu unjuk kekuatan pengaruh negara adidaya di dunia. Hal itu kemudian dirumuskan secara lebih eksplisit ke dalam beberapa pertanyaan, (1) Apa saja yang melatarbelakangi Amerika Serikat untuk melakukan perang dengan Vietnam. (2) bagaimana keadaan negera Vietnam sendiri hingga sampai terjadi perang. Selain itu, (3) apakah ada peran dari negara lain untuk membantu dan bagaimana perannya. Oleh karena itu, makalah ini mencoba menganalisis konflik yang terjadi antara Vietnam dan Amerika Serikat sehingga menimbulkan banyak sekali korban. Konflik itu sendiri tidak hanya melibatkan kedua belah pihak tetapi bisa saja melibatkan pihak lain yang memiliki kepentingan.
Pertanyaan-pertanyaan tadi diharapkan memperjelas hal-hal apa saja yang menyebabkan perang dingin berpengaruh pada negara Vietnam secara khusus dan juga mempengaruhi negara-negara di Asia Tenggara secara umum. Apakah yang sebenarnya melatarbelakangi konflik sehingga begitu berpengaruh pada dunia internasional. Memang menarik untuk diperhatikan karena pada peperangan ini, Amerika Serikat kalah dan harus menarik mundur pasukannya.
Hal ini cukup penting untuk dilihat dari berbagai sudut. Meskipun sudah banyak tulisan-tulisan yang menulis dan menganalisis tentang perang vietnam. Tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba menulis dengan pandangan berbeda. Banyaknya tulisan dan artikel mengenai perang vietnam menunjukkan bahwa kejadian tersebut memang sangat berarti dan banyak hal-hal yang harus diungkapkan. diharapkan dari tulisan ini untuk menemukan bukti-bukti baru mengenai perang Vietnam ataupun bukti-bukti yang mendorong ataupun menolak bukti-bukti yang telah ditulis sebelumnya.

PEMBAHASAN

            Vietnam merupakan sebuah negara yang terletak di semenanjung indochina di Asia Tenggara. Negara ini menganut paham sosialis komunis. Sebelumnya Vietnam merupakan wilayah jajahan Perancis. Sejak abad ke-19, negara ini sudah ditaklukkan oleh para tentara Perancis. Rasa nasionalisme mulai muncul sejak awal abad ke-20 dari pendidikan yang didapatkan oleh para intelektual. Adanya rasa senasib sepenanggungan semakin meningkatkan rasa nasionalisme. Nasionalisme itu dibuktikan dengan dibentuknya partai-partai dan organisasi dan salah satunya adalah partai komunis vietnam yang kemudian berubah menjadi Vietminh dengan pemimpinnya yaitu Ho Chi Minh.
            Perjanjian Genewa antara pihak Vietminh dengan Perancis menghasilkan dua keputusan penting. Keputusan pertama berisi penghentian permusuhan di Vietnam dan yang kedua berisi tentang dibaginya Vietnam untuk sementara menjadi 2 dengan garis lintang sebagai batas. Ho chi Minh mendapatkan wilayah bagian utara sedangkan wilayah selatan diserahkan pada Ngo Dien Dhiem. Vietnam utara berideologi Komunis yang dipengaruhi Uni Soviet sedangkan wilayah selatan dipengaruhi Amerika Serikat. Dalam perjanjian itu juga tertulis bahwa akan diadakan pemilu 2 tahun lagi.
            Amerika Serikat berusaha membendung kekuatan komunis dengan berada dibalik Vietnam Selatan. Perjanjian Genewa yang dilaksanakan kemudian dilanggar oleh Vietnam Selatan. Terdapat 2 pelanggaran yang dilakukan yaitu Ngo Dien Dhiem menolak berpartisipasi dalam pemilu dan dikirimnya penasihat-penasihat militer Amerika untuk melatih tentara Republik Vietnam.
            Kebijakan awal Ngo Dien Dhiem di Vietnam Selatan membuat petani dan rakyat kecil semakin menderita. Hal itu mengakibatkan munculnya rasa sentimen dan Anti-Dhiem. Ho Chi Minh berusaha melakukan perundingan dengan Vietnam selatan agar Vietnam menjadi satu seperti sebelum Perjanjian Genewa. Namun, usaha perundingan yang dilakukan itu ditolak oleh Ngo Dien Dhiem. Penolakan itu kemudian mengakibatkan munculnya pemberontakan dari kalangan orang-orang Vietnam Selatan yang mendesak dilakukannya reunifikasi.
            Pemberontakan yang terjadi di Vietnam Selatan dimanfaatkan oleh Ho Chi Minh untuk mengumpulkan kekuatan. Hal yang mereka lakukan adalah dengan membangun jalan-jalan sebagai jalur distribusi persenjataan yang berasal dari Vietnam Utara menuju kubu-kubu pemberontakan Anti-Diem. Jalur tersebut dinamakan Ho Chi Minh Trail yang membentang sepanjang ratusan mil. Persenjataan dan peralatan lain didapatkan Ho Chi Minh dari Uni Soviet melalui pelabuhan Haiphong. Peralatan itu kemudian dibawa langsung kepada [1]NLF dan Vietkong di Vietnam Selatan untuk melawan pemerintahan Ngo Dien Dhiem. Selama periode 1959 – 1963, para pemberontak Vietnam Selatan berusaha menjatuhkan pemerintahan Ngo Dien Dhiem dan tentunya dengan bantuan persenjataan dari Vietnam Utara.
            Hampir jatuhnya pemerintahan Ngo Dien Dhiem semakin melibatkan Amerika Serikat. John F. Kennedy yang waktu itu baru menjabat sebagai presiden langsung mengirimkan pasukan khususnya ke Vietnam selatan. Kawasan Indocina menjadi hal yang patut dipertahankan oleh Amerika Serikat. Pakta pertahanan Asia Tenggara yang dikenal dengan nama SEATO yang beranggotakan Amerika Serikat, Perancis, Selandia Baru, Australia, Pakistan, Thailand dan Fillipina memang sengaja dibentuk untuk mempertahankan wilayah tersebut. Amerika Serikat takut jika Vietnam Selatan berhasil dikuasai oleh Vietnam Utara yang berideologi Komunis maka negara-negara yang ada di sekitar wilayah Indocina juga berkemungkinan besar mendapatkan pengaruh dari Komunis dan menjadi negara Komunis. Hal itulah yang dikenal dengan Teori Domino dimana ada rentetan domino yang jatuh dan mempengaruhi ideologi negara-negara di Asia Tenggara. Pasukan yang dikirim Kennedy ditujukan untuk membantu tentara Vietnam Selatan dalam menahan masuknya tentara Vietnam Utara yang mulai masuk ke perbatasan dan membentuk kantong-kantong pasukan.
            Usaha yang Kennedy lakukan tidak dapat diselesaikan dengan tuntas. Kennedy terbunuh saat sedang kampanye di Dallas. Tugasnya kemudian diambilalih oleh Lyndon B. Johnson. Perintah pertama yang ia ucapkan adalah memenangkan perang di Vietnam Selatan.[2] Melihat keadaan Vietnam Selatan yang semakin memanas, ditambah lagi dengan akan semakin besarnya pengaruh Komunis, Menteri pertahanan Amerika, McNamara kemudian diperintahkan untuk menggantikan pemimpin di Vietnam Selatan. Pergantian pemimpin itu dilakukan dengan membunuh Ngo Dien Dhiem karena Dhiem sendiri tidak bisa diandalkan untuk menyelesaikan konflik di perbatasan dan kudeta tersebut dilakukan oleh orang-orang kepercayaannya.
Pada akhir tahun 1963, Amerika Serikat mengirim bantuan sebanyak 16.300 orang tentara dan bantuan dana sebesar $500juta untuk membantu tentara Vietnam Selatan menyelesaikan konflik di perbatasan. Selain itu, dikirim juga 5000 orang penasehat tentara di bawah pimpinan Jenderal William Westmoreland ke Vietnam. Para pemberontak Vietnam Selatan yang dikenal dengan nama Vietcong semakin mendapat dukungan dari para petani. Usaha-usaha mereka untuk menentang pemerintahan Vietnam Selatan semakin gencar dilakukan baik dengan melalui organisasi yang dibentuk seperti NLF ataupun secara terselubung dengan dibantu Vietnam Utara. 
            Insiden yang terjadi di Teluk Tonkin pada bulan Agustus 1964 menjadi pemicu utama Amerika Serikat untuk menyatakan perang dengan Vietnam Utara. Penyerangan terhadap kapal-kapal militer Amerika Serikat oleh kapal-kapal militer Vietnam Utara. Meskipun masih belum jelas siapa pemicu penyerangan tersebut, tetapi disetiap kubu merasa berada di pihak yang benar. Amerika merasa masih berada di perairan internasional sehingga Vietnam Utara dianggap sebagai pemicu serangan. Sementara itu, Hanoi menuduh Amerika Serikatlah yang memicu insiden teluk tonkin. Menurut Vietnam Utara, Amerika Serikat telah melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal patroli Vietnam Utara di Quang Khe dengan menggunakan pesawat pengebom. Dalam serangan itu, delapan kapal Vietnam Utara tenggelam dan 21 lainnya mengalami kerusakan. Serangan Amerika Serikat itu tentu membuat Vietnam Utara mulai melakukan berbagai cara untuk membalas. Vietnam Utara yang dibantu persenjataan oleh Uni Soviet dan Cina kemudian menembak serta menjatuhkan pesawat-pesawat Amerika Serikat dengan menggunakan Stockdale.
            Pada bulan maret 1965, Amerika serikat sudah terang-terangan mengirimkan pasukannya ke Vietnam dan melakukan perang terbuka dengan Vietnam Utara. Operasi yang dikenal dengan nama operasi Halilintar kemudian dilakukan. Pemboman besar-besaran dijatuhkan dari atas pesawat-pesawat Amerika Serikat. Dikerahkan 123 pesawat tempur yang lepas landas dari kapal induk di Lau Cina Selatan. Selain itu, pangkalan-pangkalan di Vietnam Selatan juga mengerahkan pesawat-pesawatnya untuk menjatuhkan bom-bom di wilayah Vietnam Utara. Bom-bom yang dijatuhkan itu bahkan tercatat melebihi jumlah bom yang dijatuhkan dalam perang duni ke II di Eropa.
Operasi Halilintar ini memang dimaksudkan untuk membuat Hanoi tunduk dan terpaksa memakai jalan perundingan dalam menyelesaikan masalah dan konflik di Vietnam. Oleh karena itu, Presiden Jonshon sangat menaruh harapan besar pada operasi ini. Tetapi, apa yang diharapkan Presiden Johnson itu keliru. Para tentara Vietnam utara dan Vietkong serta pemerintahan Republik Demokrasi Vietnam tidaklah tunduk dengan pengeboman besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Sikap pemerintah Republik Demokrasi Vietnam semakin keras terhadap Amerika Serikat.
              Sampai awal 1965, pasukan Amerika Serikat mencapai 184.300 prajurit. Jumlah ini semakin bertambah seiring bertambahnya ketakutan Amerika terhadap teori domino yang akan terjadi. Hingga pada awal 1966 menjadi 385.000 prajurit, awal tahun 1967 menjadi 485.300 prajurit dan pertengahan 1968 mencapai jumlah 525.000 prajurit.[3] Pasukan-pasukan itu sudah termasuk pasukan yang berasal dari Australia, Thailand, Selandia baru, Korea Selatan dan Fillipina. Negara-negara itu merupakan anggota SEATO yang memang berada di bawah pengaruh Amerika Serikat. Tentara Vietnam Selatan sendiri berjumlah 1,5 juta orang. Sedangkan tentara Vietkong hanya memiliki 400.000 pasukan.
            Puncak dari perang Vietnam terjadi pada tahun 1968. Dalam membalas serangan dari operasi Halilintar yang dilancarkan Amerika Serikat. Vietnam Utara yang bergabung dengan Vietkong kemudia menyerang basis-basis militer Amerika Serikat di Vietnam selatan pada tanggal 30 Januari 1968-1969. Operasi ini disebut dengan nama Operasi [4]Tet.Meskipun pasukan gabungan Vietkong dan Vietnam Utara berhasil dipukul mundur, tetapi serangan membabi buta yang dilakukan membuat perubahan sikap Amerika Serikat. Serangan ini dianggap menjadi titik balik kemenangan Vietnam utara dan Vietkong. Sejak serangan itu, Amerika Serikat mulai menarik mundur pasukannya. Hal itu disebabkan semakin kurangnya dukungan dari rakyat Amerika dan banyaknya cercaan yang ditujukan kepada mereka.
            Setelah serangan Tet, terjadi lagi serangan yang dikenal dengan pertempuran Khe Sanh. Pada pertempuran inilah, tentara Amerika Serikat dikalahkan. Hal itu disebabkan, taktik gerilya yang para prajurit Vietkong lakukan serta seluk beluk keadaan setempat yang sudah mereka pahami membuat pasukan Amerika Serikat kewalahan. Pasukan Vietnam Utara menyerang dengan menembakkan banyaka artileri terhadap markas besar Amerika Serikat. Amerika Serikat berusaha membalas dengan melakukan pemboman terhadap pasukan Vietnam Utara yang mencoba masuk melalui Khe Sanh. Serangan balasan itu disebut dengan Operasi Niagara yang langsung dipimpin oleh Jenderal William C. Westmoreland.
            Berbagai kekalahan dan kerugian yang diterima oleh Amerika Serikat membuat mereka harus membuat perjanjian dan harus menarik semua pasukannya dari Vietnam. Pada tanggal 27 januari 1973 setelah melalui perundingan berbulan-bulan dan melelahkan, maka ditandatanganilah persetujuan di Paris. Persetujuan Paris ditandatangani oleh Amerika Serikat, Vietnam Utara, Vietnam Selatan dan Vietcong. Persetujuan ini sekalipun memberikan suatu  pergerakan sementara, sebenarnya ini merupakan suatu bagian integral dari strategi Vietcong dan Vietnam Utara untuk menguasai seluruh Vietnam sesuai dengan konsep dasar yang dulu diletakkan Ho Chi Minh. Persetujuan itu menegaskan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Vietnam dan semua tawanan perang Amerika di sana dibebaskan.[5] Walaupun perjanjian sudah ditandatangani tetapi pada tahun 1975, tentara Vietnam Utara mulai memasuki wilayah Vietnam Selatan. Tank-tank dikerahkan untuk menduduki wilayah tersebut. Kemenangan Vietnam Utara ditandai dengan didudukinya Saigon sebagai pusat dari wilayah Vietnam Selatan pada tanggal 30 April 1975.
            Perang yang terjadi antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan yang didukung Amerika ini akhirnya dimenangkan oleh Vietnam Utara yang ditandai dengan didudukinya Saigon sebagai pusat dari wilayah Vietnam Selatan. Kekalahan Amerika Serikat membuat mereka kehilangan muka di dunia internasional sebagai negara adikuasa. Kekalahan ini menjadi kekalahan pihak imperialis yang menjadi bukti bahwa tidak selamanya negara besar itu menang.


KESIMPULAN

            Perang Vietnam menjadi perang yang pertama kali disiarkan kepada masyarakat umum. Perang yang terjadi dari tahun 1957 ini menjadikan Amerika Serikat terlihat tidak mampu untuk meredam dan menyelesaikan konflik yang terjadi di Vietnam. Selain itu, serangan besar-besaran yang dilakukan secara langsung menjadi tidak berpengaruh terhadap jalannya perang. Bahkan serangan besar-besaran tadi menjadikan tentara Vietnam Utara semakin keras. Perang ini berhasil menyatukan wilayah yang memang sebelumnya bersatu dan dipisahkan oleh kolonialisme. Tetapi wilayah ini juga kembali disatukan dengan peperangan dan invasi.
            Pasukan Vietkong dan Vietnam Utara berhasil menduduki Saigon dan menyatukan kembali wilayah Vietnam. Kemenangan mereka terhadap Amerika Serikat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah pasukan Vietnam Utara dan Vietkong lebih menguasai medan pertempuran tentu membantu mereka saat bertempur dengan Amerika. Adanya lorong-lorong bawah tanah membuat mereka lebih leluasa dalam bersembunyi dan menyusun strategi.
Teori Domino yang menjadi alasan bagi Amerika Serikat untuk ikut campur dalam konflik di Vietnam. Vietnam selatan yang dianggap “sumbat botol” menjadi ketakutan bagi mereka jika berhasil dikuasai Komunis. Jika “sumbat botol” itu dikuasai dan berhasil dibuka maka Komunis akan dengan mudah menjalar ke kawasan Asia Tenggara. Politik Intervensi yang mereka lakukan belum tentu memperlihatkan suatu hasil yang diharapkan. Tetapi, malah memperlihatkan suatu pelajaran dan pengalaman yang pahit. Kekalahan ini menjadi kekalahan sosial dan politik terbesar yang dialami Amerika Serikat.

DAFTAR PUSTAKA

-          Allen, Douglas dan Ngo Vinh Long, Coming to terms: Indochina, The United States and the War. San Fracisco: Westview Press, 1991
-          Robert, Mc. Namara, dan Brian Van de Mark, In Retrospect: The Tragedy and Lessons of Vietnam, New York: Times Books, 1995.
-          Bachtiar, Iljas, Perang Vietnam dan Netralisasi Asia Tenggara, Jakarta : Kebon Sirih, 1964.
-          Sardiman, A.M., Analisis Kemenangan Komunis Vietnam dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Politik di Asia Tenggara, Yogyakarta: Liberty, 1983
-          Selamat, Ginting, ”Vietkong Tertawa”, [Teraju], Republika, 8 Februari 2013





[1]  NLF adalah sebuah kelompok yang bertekad menjatuhkan Diem dan menyatukan kembali Vietnam. NLF dibentuk pada tahun 1960.
[2]  Bachtiar, Iljas, Perang Vietnam dan Netralisasi Asia Tenggara, Jakarta : Kebon Sirih, 1964, hlm. 19.
[3] Selamat, Ginting, ”Vietkong Tertawa”, [Teraju], Republika, 8 Februari 2013, hlm. 29.
[4]  Tet diambil dari waktu terjadinya penyerangan. Serangan yang dilakukan bertepatan dengan malam Tết Nguyên Đán (tahun baru imlek).
[5] Sardiman, A.M., Analisis Kemenangan Komunis Vietnam dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Politik di Asia Tenggara, Yogyakarta: Liberty, 1983, hlm. 49

0 komentar:

Poskan Komentar